Wednesday, January 28, 2009

Beriklan di Blog, Why Not?

Jika Anda pengusaha, pemilik merek atau manajer merek, maka ketika akan beriklan di media Internet yang teringat adalah portal-portal seperti Detikcom, Kompas Cyber Media, atau Friendster. Tiga media online itu saya rasa sekarang masih menjadi 3 pilihan utama beriklan. Beberapa media khusus seperti Bisnis.com, PortalHR, Niriah, kini menjadi alternatif baru, tentu bagi pengiklan khusus. Namun, satu dua pemasang iklan kini sudah mulai melirik media baru: BLOG.

Kenapa blog?

Pertama, baik blog maupun portal itu pada hakekatnya adalah pasar, tempat di mana banyak orang berkumpul di dunia maya.

Bedanya hanya dalam hal isi, fasilitas, dan orientasi bisnis. Karena tujuan membangun portal adalah laba, maka portal dibangun begitu serius, dengan berbagai fasilitas unggulan, dikelola dengan manajemen yang ketat, sehingga mampu mengundang sebanyak mungkin pengunjung online, yang ujung-ujungnya mampu menarik pengiklan atau menghasilkan transaksi.

Sebaliknya, blog biasanya hasil kerja perorangan, diperbarui jika sang empunya lagi punya waktu atau topik. Sangat sulit menemukan blog yang diperbarui secara berkala, dengan konsistensi tinggi selama bertahun-tahun. Tidak heran jika diantara ribuan blog di Indonesia, hanya segelintir blog yang mampu menancap di benak pengguna Internet.

Kedua, blogger biasanya punya perilaku baru: jalan-jalan ke blog-blog lain. Istilah kerennya: blog walker.

Begitu mereka menemukan blog keren, mereka akan berhenti sejenak, membaca, memberi komentar. Jika bog tersebut memang memikat, maka mereka akan menambahkan tautan di blog mereka, sehingga menjadi bacaan tetapnya, sekaligus komunitas barunya.

Ketiga, waktu blogger semakin berkurang untuk membaca media online.

Memang saya belum melakukan riset mengenai hal ini. Namun saya amati, begitu seseorang menjadi blogger, semakin banyak waktu online-nya yang tersita untuk mengisi blognya sendiri, membaca jaringan blognya dan memberi komentar, serta berinteraksi dengan blog lainnya. Akibatnya, jika sebelumnya waktu mereka lebih banyak untuk membaca media online tradisional, kini terbagi untuk media online Web 2.0 ini.

Jadi kini tibalah saatnya para pemasar, pemilik brand, atau brand manager untuk memulai memantau pasar ini dengan baik. Xplore –kartu pasca bayar XL — sudah memulai langkah ini dengan memasang iklan MakinSeru di beberapa blog, termasuk blog Enda, Pecas Ndahe dan blog Gombal.

Source: http://www.virtual.co.id/blog/internet-marketing/beriklan-di-blog-why-not/

Monday, January 26, 2009

Marketing Outlook 2009: New Wave Marketing Part II

New Wave Marketing vs Legacy Marketing:

Eg: Barrack Obama vs John McCain, Obama menarik simpati banyak orang dari hal2 yang kecil semacam Facebook, komunitas2 kecil tetapi dalam jumlah banyak, dia mendapat donasi dr orang sebesar $1,$5,$10, …. (horizontal marketing) JohnMcCain menggunakan vertical marketing di mana mengucurkan banyak dana untuk advertising dan mendekati orang2 besar untuk mensupport dia (vertical marketing). Horizontal Marketing = High Impact, Low Cost Vertikal Marketing = High Cost, Low Impact

Eg 2: Zara, toko pakaian terkenal dari Spanyol, merupakan salah satu penganut aliran New Wave. Jika kebanyakan toko2 pakaian terkenal menggunakan jasa designer2 terkenal dengan bayaran mahal, Zara justru menggunakan designer2 pinggir jalan, yang kerjaannya berdiri di jalanan pusat kota dan memperhatikan orang-orang yang lalu lalang, menyimak trend pakaian dan aksesoris yang sedang hot & banyak diminati. Oleh karena itu, pergerakan bisnis Zara sangat dinamis, inovatif, dan selalu mengikuti trend. Hari ini ke toko Zara liat baju model A, 2-3 minggu lagi kembali udah tidak ada, udah ganti model laen!

Eg 3: Bupati Lamongan, berperan besar mengubah Tanjung Kodok, yg dari tidak ada apa-apanya, menjadi tempat Resort yang banyak diminati orang. Dia gencar melakukan lobi kepada investor investor baik di dalam maupun luar negeri untuk memasarkan Tanjung Kodok yang punya potensi besar untuk dijadikan tempat wisata yang handal. Bahkan demi menarik investor asing dari China, beliau belajar bahasa mandarin, bahkan membuat nama mandarin untuk dirinya sendiri. Lebih lanjut, dia mengharuskan Madrasah madrasah di Lamongan untuk menempatkan mata pelajaran Mandarin di dalam kurikulumnya.

Tahun 2009 banyak orang meramalkan krisis di Indonesia masih belum berlalu bahkan akan bertambah parah karena adanya pemilu di tengah tahun. Faktanya, investor tidak akan menunggu sampai Indonesia pulih perekonomiannya. Artinya, tergantung dari kita apakah kita bisa memanfaatkan peluang menyalip di tikungan atau justru jadi “korban”. Fact: Di Indonesia, jumlah penjualam mobil tahun 2008 mencapai lebih dari 500,000 unit. Penjualan Yamaha motor mencapain 25% dari total penjualan Yamaha seluruh dunia. Solusi: Positive energy! Selalu berpikir positif untuk memanfaatkan situasi seperti apapun untuk membuat peluang baru dan strategi baru. Situasi ini saat yg paling tepat bagi kita untuk menyalip di tikungan!

Marketing Outlook 2009: New Wave Marketing

17 Desember 2008, saya mengikuti seminar Hermawan Kartajaya yang menurut saya sangat menarik dalam era krisis global kali ini. Ada 3 fase penting yang harus dicermati oleh para marketer/pemasar di tahun 2009:

Quarter I: Fase EmergencyKeep good customers! Menjaga intimacy dengan customer customer lama. Di saat krisis seperti ini, sangat penting untuk menjaga hubungan agar mereka sadar bahwa kita bukan cuma "customer service" bagus agar mereka beli sama kita, tapi agar mereka tau kalo kita juga "customer care", peduli pada keadaan dan kondisi mereka, supaya ada ikatan kekeluargaan. Di level ini, meskipun harga produk kita sama atau lebih tinggi sedikit dari competitor, mereka akan lebih memilih produk kita karena merasa sudah dekat dan enak berhubungan dengan kita. High impact, low cost! Give Solutions, not Discount! Dan horizontal marketing, sangat dominant peranannya di sini.

Quarter II&III: Fase CriticalFase yang sangat critical untuk Marketer mencari customer customer baru. Di fase ini, kita harus membantu customer untuk menemukan produk yang cocok untuk krisis. Ini saat yang paling penting untuk kita Menyalip Di Tikungan! Krisis adalah waktu yang tepat untuk kita bisa menemukan peluang peluang dan celah celah baru untuk menerobos dan menyalip kompetitor kompetitor kita!

Quarter IV: Fase GrowInilah saat dimana perusahaan harus menunjukkan keunggulannya di atas para kompetitornya. Jika fase fase ini dikaitkan dengan jumlah customer, maka akan terlihat suatu grafik yang signifikan antara mereka yang bisa memanfaatkan krisis dan mereka yg menjadi korban krisis! Perusahaan yang sukses menyikapi gelombang krisis akan STAND UP di tengah tengah para kompetitornya.

(to be continued)

Thursday, January 15, 2009

Strategi Bisnis: Lawan Arus !!!

"Untuk mencapai sukses, tak usah meniru sukses masa lalu. Sebagian pebisnis menerapkan jurus-jurus bisnis yang tak lazim dan bertentangan dengan teori. Mereka sukses karena menerapkan jurus-jurus bisnis yang menentang arus"

Antrean di sebuah counter BreadTalk di Mal Kelapa Gading, Jakarta, itu tampak mengular. Panjang. Mereka rela antre hanya untuk dapat mencicipi sepotong roti bertabur abon. Untunglah, sambil antre, mereka masih terhibur melihat "atraksi" pembuatan roti di dapur yang dindingnya transparan.

Dapur transparan, bukankah itu melanggar tradisi? Bukankah itu sama saja dengan membuka rahasia dapur? Bukankah itu menentang arus? Apalagi kebanyakan toko roti selama ini selalu meletakkan dapur di belakang. Salah satu tujuannya adalah agar tak mudah dilihat pesaing. Lagi pula, banyak orang menganggap tabu kalau pembeli bisa melihat suasana dapur, yang biasanya jorok, kotor, dan berantakan. Anggapan itu justru "ditabrak" BreadTalk."

Dengan konsep open kitchen, BreadTalk ingin menjadi sebuah butik roti yang ingin bisa menyatukan rasa, pikiran, dan mata," kata Sugiyanto Wibawa, vice-president director PT Talkindo Selaksa Anugrah, nama perusahaan pemegang hak waralaba BreadTalk di Indonesia. Meski Sugianto mengaku bahwa konsep open kitchen berasal dari Singapura, nyatanya apa yang ia lakukan kemudian diikuti oleh beberapa toko roti lainnya di Tanah Air.

Menentang Arus, Apa Itu?Menurut associate consultant MarkPlus&Co, Yuswohady, jurus-jurus bisnis menentang arus kerap disebut sebagai blue ocean strategy. " Blue ocean strategyadalah strategi yang biasanya diterapkan dalam sebuah arena bisnis, di mana kondisi pasar atau lautnya masih berwarna biru, terbuka, karena belum banyak pemain yang menggarap," papar Siwo, panggilan akrab Yuswohady. Jadi, lanjut dia, bisa dikatakan bahwa blue ocean strategy adalah strategi yang radikal, gila, dan cenderung menentang arus bisnis yang ada.

Dalam kasus BreadTalk, jurus menentang arus yang dipakainya adalah tak sekadar mengandalkan kenikmatan rasa rotinya, seperti toko-toko roti lainnya di Indonesia. "BreadTalk berani menabrak tradisi dapur tertutup, dan terbukti bisa memainkan emosi konsumen dengan konsep keterbukaan dapurnya," jelas Siwo.


Source: Majalah Warta Ekonomi Edisi 8 Agustus 2005